Control kinetika dan termodinamika dalam sintesis
senyawa organic
Kinetika sendiri dapat kita maksudkan dengan ilmu
yang mengajarkan mengenai cepat atau lambatnya suatu reaksi terjadi beserta
dengan langkah yang terjadi sedangkan untuk termodinamika sendiri didalam kimia
dapat kita maksudkan dengan keterkaitan antar panas dan kerja dengan suatu
reaksi kimia dengan pergantian keadaan dalam batas hukum dari termodinamika.
Pada Kinetika kimia dipelajari ketergantungan laju
reaksi melanjutkan dalam suatu sistem pada konsentrasi komponen kemudian, juga
pada pengaruh lain sebagai: suhu, medan listrik, radiasi, dll. Kemudian, beralih
ke mekanisme molekuler dan rezim khusus, seperti reaksi berantai, polimerisasi
dan degradasi polimer, api, pembakaran, ledakan, osilasi, reaksi sinar atom dan
molekul, dll
kontrol kinetik terjadi karena perbandingan produk
pada reaksi dipengaruhi oleh laju pembentukan produk
Pada reaksi E2 tersebut tidak dapat kembali seperti
semula. Produk dari alkena tidak pada
keseimbangan yang mengakibatkan stabilitas relatif mereka tidak dapat
mengendalikan keseluruhan produk yang didapatkan. Sedangkan, dilaju reaksi relatif dapat mengendalikan
keseluruhan produk yang didapatkan. Reaksi ini di sebut kontrol kinetik .
Sedangkan pada reaksi E1, produk alkena berada dalam kesetimbangan
(melalui karbo kation ), yang megakibatkan stabilitas relatifnya (bukan laju
reaksi ) dapat mengendalikan keseluruhan produk yang dihasilkan. Reaksi ini di sebut kontrol termodinamika
Jika dua atau
lebih reaksi yang tidak bisa kendali ke keadaan semula dari
reaktan yang sama, bersaing di keadaan tertentu maka dapat disebut kontro kinetic. hasil utamanya merupakan
produk yang terbentuk lebih cepat, yang disebut produk kinetik. Keadaan
yang menentukan bahwa sistem ada dalam kontrol kinetik disebut kondisi kinetik.
k 1 ,
k 2 merupakan konstanta dari laju
Jika k 1 >
k 2 , kedua reaksi mempunyai reaktan yang sama, laju
pembentukan R > laju pembentukan S, [R] > [S]
dengan R = produk utama,
S = produk minor
Dua produk diisolasi:
Pada pemutusan ikatan rangkap elektrofilik,
diena berikatan sehingga terdapat gabungan hasil kinetik dan hasil termodinamika
yang perbandingannya ditentukan oleh kondisi reaksi. Reaksi yang hasil
akhirnya lebih banyak hasil termodinamika berada di bawah kontrol
termodinamika, dan reaksi yang hasilnya lebih banyak hasil kinetik berada di
bawah kontrol kinetik.
Pada diagram profil
energi dibawa, terlihat bahwa bahan awal
A dapat bereaksi menghasilkan baik B (ke
kiri) atau C (ke kanan). terbentuknya
produk B menghentikan permasalahan dengan energi aktivasi yang lebih rendah ,
yang mana akan terbentuk lebih cepat dengan mengabaikan efek konstan
pra-eksponensial. Diagram profil energi untuk A → B (kiri) dan A → C (kanan).
Sumbu horizontal merupkan koordinat reaksi, dan sumbu vertikal mewakili energi
Gibbs. Zat antara karbokation terdelokalisasi (A) adalah bentuk terprotonasi
dari 1,3-butadiena (langkah pertama dari reaksi 1,3-butadiena dengan HBr).
Jika kita membiarkan suhu cukup rendah , molekul B yang tidak membentuk lebih cepat, maka tidak akan memiliki energi yang cukup untuk melakukan penghalangan terhadap aktivasi terbalik (yaitu, B → A ) untuk pembaruan pada A . Reaksi maju A ⟶ B dan A ⟶ C pada keadaan seperti itu, tidak dapat diganti . Sejak pembentukan B yang lebih cepat, maka akan mengusai, dan produk utama yang dihasilkan adalah B yang disebut dengn kontrol kinetik dan B adalah produk kinetik .
Dengan suhu tinggi, B masih akan menjadi hasil yang terbentuk
lebih cepat yang menandakan reaksi dapat kembali ke semula yang berarti molekul
B dapat kembali ke A . hal itu disebabkan karena sistem tidak
lagi dihentikan oleh suhu, sistem akan memperkecil energi bebas Gibbsnya, yang
merupakan ciri dari termodinamika untuk kesetimbangan kimia. Yang menandakan
molekul yang paling stabil secara termodinamika, C akan lebih dominan
terbentuk. 2 Reaksi disebut berada di bawah kontrol termodinamika dan C adalah
produk termodinamika .
salah satu contoh yang
diambil dimana pada percobaan tersebut terjadi 2 percobaann denan alcohol asam
asam karboksilat yang berbeda, dimana percobaan pertama yaitu dengan
menggunakan alkoholnya itu etanol serta asam karboksilatnya yaitu berupa asam
etanoat, sedangkan pada percobaan kedua itu dengan menggunakan alcohol yaitu methanol
sedangkan asam karboksilat yaitu asam salisilatn dimana didapatkan percobaan
pertama lebih cepat mengalami peanasan dengan waktu 1 menit 42 detik. Dari contoh
itu berkaitan dengan control kinetika dan control termodinamika , dimana
kinetika dan termodinamika berkaitn dengan suhu, jika suhu yang didapatkan
tinggi maka cepatnya energy dari reaksi pembentukan ester akan bagus, karena energy
dari pembentukan ester tersebut bagus, maka control dari termodinamikanya juga
bagus hal itu dikarenakan termodinamika berkaitan dengan suhu, jika suhunya
naik maka akan stabil suatu reaksi tersebut. Atau dapat dilihat pada video
kelompok kami: https://youtu.be/1GsCgmiJv1E
permasalahan:
1.
Apakah pada hasil
reaksi pada termodinamika dan kinetika seperti
diagram yang disajikan pada blog tersebut salalu berbeda?
2.
Zat apa yang dapat
menggantikan asam sulfat sebagai katalis?
3.
Apa yang menyebabkan
percobaan pertama dan kedua memiliki perbedaan waktu yang cukup jauh pada saat
pemanasan?




Baiklah, saya Soni Fitri Br Nababan A1C119097, akan menjawab pertanyaan no 3, Pada bahan yang digunakan dapat terlihat bahwa pada reaksi yang pertama dimna asam etanoat yang digunakan adalah dalam bentuk cair, sedangkan pada percobaan yang kedua yang digunakan adalah asam salisilat yang masih berbentuk kristal padat sehingga lebih banyak waktu yang dibutuhkan dalam bereaksi
BalasHapusBaiklah saya Marwina Apriyanti (A1C119017) Izin menjawab permasalahan nomor 1. tidak setiap reaksi memiliki produk termodinamika dan kinetik yang berbeda. Jika keadaan transisi menuju pembentukan C memiliki energi yang lebih tinggi daripada yang mengarah ke B, maka B secara bersamaan akan menjadi produk termodinamika dan kinetik. Ada banyak reaksi di mana produk yang lebih stabil ( termodinamika ) juga terbentuk lebih cepat ( kinetik ).
BalasHapusBaiklah saya Lenny Friskha Tamba dengan NIM A1C119035 izizn menjawab permasalahan no2. Pada pembentukan ester atau esterifikasi, katalis yang digunakan adalah H2SO4 atau bisa juga menggunakan HCl sebagai katalis . Sehingga peran dari asam sulfat disini bisa digantikan oleh HCl
BalasHapus